07/05/09

Malu dan cemburu dalam bingkai Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه, وبعد

Di antara bukti kebaikan-kebaikan Dien kita ini adalah perhatiannya terhadap etika yang terpuji. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق / رواه الإمام أحمد
"Aku telah diutus semata untuk menyempurnakan akhlaq yang baik" (HR.Ahmad)
Ketika Nabi diutus, beliau pun menetapkan perangai-perangai yang indah yang ada pada masyarakat jahiliah dan menghilangkan yang buruk, serta meluruskan yang perlu untuk diluruskan.

Dan di antara akhlaq mulia yang disifati oleh masyarakat jahiliah adalah: 'kecemburuan' lelaki terhadap mahramnya. Bahkan sebahagian dari mereka ada yang berlebihan dan melampaui batas, hingga ada yang sampai pada batas mengubur bayi perempuan mereka hanya karena rasa khawatir anaknya akan terjerumus pada perbuatan keji jika ia besar nanti.
Maka syariat pun melarang hal tersebut, kemudian meluruskan sifat cemburu itu dan menjadikannya di antara cabang keimanan.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لا شيء أغير من الله / رواه الإمام أحمد والبخاري
"Tidak ada sesusatu pun yang lebih pecemburu dari Allah" (HR.Imam Ahmad dan al-Bukhari)
Beliu bersabda :
إن الله يغار, وإن المؤمن يغار, وغيرة الله أن يأتي المؤمن ما حرم الله عليه / رواه الإمام أحمد والبخاري ومسلم
"Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu'min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya" (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)

Beliau bersabda dalam khutbahnya ketika terjadi gerhana matahari :

يا أمة محمد, ما أحد أغير من الله / رواه البخاري ومسلم
"Wahai ummat Muhammad, tak seorang pun yang lebih pecemburu dari Allah" (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

إن من الغيرة ما يحب الله.../ رواه الإمام أحمد وأبو داود والنسائي
"Sesungguhnya ada di antara sifat cemburu yang Allah cintai…" (HR.Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa'i)

Dan ketika Saad bin Ubadah berkata :"Andai aku mendapati seorang lelaki bersama istriku, pasti ia akan kutebas dengan mata pedangku," Nabi pun bersabda, "Apakah kalian kagum dengan kecemburuan Saad?, sesungguhnya Aku lebih pecemburu darinya, dan Allah lebih pecemburu dariku."(HR. al-Bukhari dan Muslim)
[1]

Para sahabat telah menghiasi diri-diri mereka dengan etika nubuwah ini dan berpegang teguh dengannya, sama halnya dengan kewajiban-kewajiban beriman beserta cabang-cabangnya. Maka bukanlah hal yang aneh jika seseorang di antara mereka membunuh atau dibunuh lantaran menjaga perkara ini.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa seorang wanita dari bangsa Arab datang ke pasar untuk menjual barang dagangannya, ia menjualnya di pasar Bani Qainuqa' (salah satu kabilah yahudi), ia pun duduk di dekat tukang emas. Maka orang-orang yahudi menginginkan agar wajahnya tersingkap, akan tetapi ia menolak. Tukang emas itu pun sengaja mengikat kedua ujung kainnya ke punggungnya tanpa ia sadari, sehingga ketika wanita itu berdiri nampaklah auratnya. Mereka pun menertawakannya, maka wanita itu berteriak. Seorang lelaki dari kaum muslimin melompat dan lanngsung membunuh tukang emas yahudi itu, kemudian orang-orang yahudi pun membunuhnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi mereka dan mengepungnya hingga mereka tunduk di bawah perintahnya, kemudian mengusir mereka ke negeri Syam.

Beginilah para salaf (pendahulu) ummat ini berlalu. Dan kaum muslimin tidak lemah dan atau berlebihan dalam mengaplikasikan akhlak ini meskipun pada masa-masa surut yang di lalui ummat Islam. Tatkala kaum Salibis menjajah sebagian kepingan wilayah kaum muslimin di negeri Syam -penjajahan yang berlangsung selama kurang lebih dua abad dan masa yang terkadang menumbuhkan kekhawatiran di hati bahwa mereka akan tatap menjajah hingga turunnya Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam- ahli sejarah mencatat bahwa kaum muslimin memandang orang-orang Salibis dengan tatapan hina dan rendah, dan bahwa mereka adalah 'Dayayits[2]'; seseorang di antara mereka berjalan bersama istrinya, kemudian bertemu dengan kawan lelaki istrinya, maka sang suami berdehem agar memberi kesempatan kepada sang istri untuk bercakap dengan kawannya semau mereka.

BEBERAPA GAMBARAN KURANGNYA SIFAT CEMBURU
Dan kita di negeri ini[3] – semoga Allah memakmurkannya dengan ketaatan- dalam perkara ini, masih lebih baik dari yang lainnya, meskipun ada sebahagian orang yang begitu jelas kelalaiannya.

Anda bisa melihat, di antara mereka ketika di atas mobil, istrinya turun dan bercakap panjang lebar padahal ia seharusnya menemaninya.

Ada yang istrinya bercampur baur dengan lelaki asing ; dengan sopir mobil, penjual di toko, dokter di klinik, atau selainnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersanda:


ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان / رواه الإمام أحمد والترمذي
"Ketahuilah, bahwa tidaklah berdua seorang lelaki dan perempuan kecuali pihak ketiganya adalah setan" (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Demikian pula seorang lelaki yang membiarkan istrinya -atau siapa yang saja yang merupakan tanggung jawabnya- keluar rumah dengan memakai pakaian yang menampakkan sebahagian anggota badan, atau lekuk tubuhnya dengan pakaian ketat atau tipis.
Demikian halnya gambaran kurangnya rasa cemburu adalah keluarnya para lelaki bersama istri-istri mereka atau dengan mahramnya yang lain ketempat-tempat umum yang memungkinkan terjadinya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan non mahram) dan saling memandang di antara mereka.

Dan seorang lelaki membiarkan istrinya bepergian tanpa ditemani mahram. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها محرم, ولا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم
"Tidaklah bercampur seorang lelaki dengan seorang wanita kecuali disertai mahram, dan tidak bepergian seorang wanita kecuali bersama mahram"
Seorang lelaki berdiri dan berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku berangkat untuk berhaji, dan aku telah tercatat dalam peperangan ini dan ini," maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

انطلق فحج مع امرأتك...
"Kembali dan berhajilah bersama istrimu" (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Sahabat ini adalah seorang mujahid (yang sedang berjihad) di jalan Allah Azza wa Jall, kemudian Nabi menyuruhnya meninggalkan medan jihad untuk kembali menemani istrinya yang tengah melaksanakan perjalanan mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Meski dengan kelembutannya, mereka adalah orang-orang yang paling suci dan bertaqwa, padahal sang istri pun telah berangkat dan berlalu, namun demikian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata "kembali dan berhajilah bersama istrimu."

PENYEBAB SEMUA ITU

Gambaran tersebut diatas adalah fakta yang telah terjadi dan disaksikan. Maka jelaslah bahwa hal yang sangat penting –wa lillahilhamd- adalah menjaga kehormatan dan cemburu atasnya. Dan apakah penyebab hilangnya pada sebagian orang sifat cemburu dan rasa malu?, sebelum membahas hal ini, kita akan berbicara tentang kedudukan dan posisi malu dalam ad-dien ini.

SIFAT MALU

Malu adalah salah satu cabang keimanan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barang siapa yang kurang rasa malunya berarti bukti lemah imannya. Dalam as-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الحياء لا يأتي إلا بخير
"Tidaklah muncul rasa malu kecuali dengan kebaikan"

Pada riwayat Muslim :

الحياء خير كله
"Malu itu baik semuanya"

Diriwayatkan dari Salman al-Farisi radiallahu 'anhu bahwa Beliau berkata:

إن الله إذا أراد بعبد هلاكا نزع منه الحياء, فإذا نزع منه الحياء, لم تلقه إلا مقيتا ممقتا
"Sesungguhnya jika Allah menginginkan kehancuran terhadap seorang hamba, Ia akan mencabut sifat malu darinya, maka jika sifat malu itu telah diangkat darinya, kamu 'tak 'kan menemuinya kecuali (ia dalam keadaan) dibenci dan memuakkan"

Seorang penyair berkata:

فلا والله ما في العيش خير ولا الدنيا إذا ذهب الحياء
يعيش المرء ما استحيا بخير ويبقى العود ما بقي اللحاء

Sekali-kali tidak –demi Allah- tak ada kebaikan dalam hidup dan tidak pula Dunia, jika malu telah hilang.
Selama ada rasa malu, orang akan hidup baik, namun tidak bagi yang bermuka tebal
.

Penyair lain berkata :

إن كأني أرى من لا حياء له ولا أمانة وسط الناس عريانا
Sungguh aku melihat orang yang tak punya rasa malu dan tak amanah telanjang di tengah-tengah manusia

Dan kurangnya rasa malu -terlebih khusus bagi kaum wanita- memiliki sebab, di antaranya:
  • Kelalaian dalam mendidik di masa kecil. Bisa karena biasa, siapa yang terbiasa pada masa kecilnya, ia akan membawanya hingga ia beruban.
  • Banyak berinteraksi dan berbicara dengan laki-laki ajaanib (bukan mahram).
  • Bergaul dengan orang yang kurang rasa malunya, atau selalu menyaksikan mereka akibat seringnya bepergian, atau melihatnya di pasar-pasar, di tempat-tempat hiburan, atau karena menonton sinetron dan selain dari itu. Sebab, akhlaq –baik buruknya- adalah hasil pergaulan.
  • Dan mungkin penyebab utamanya adalah: terlalu seringnya seorang wanita keluar rumah, Allah 'Azza wa Jall berfirman :
وقرن في بيوتكن / الأحزاب : 33
"Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian…!" (QS.al-Ahzab :33)
At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

المرأة عورة وإنها إذا خرجت من بيتها استشرفها الشيطان, وإنها لا تكون أقرب إلى الله منها في قعر بيتها
"Wanita adalah aurat, jika ia keluar rumah syaitan akan menghiasinya, dan ia tidak lebih dekat kepada Allah dari luar rumah nya dari pada di dalam rumahnya"
Dalam hadits lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لا تمنعوا نساءكم المساجد, وبيوتهن خير لهن / رواه الإمام أحمد وأبو داود

"Janganlah melarang wanita-wanita kalian untuk ke Masjid, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka" (HR. al-Imam Ahmad dan Abu daud)[4]

Berkata al-Hafidz ad-Dimyati rahimahullah: "Ibnu Khuzaimah dan sekelompok para 'ulama telah menerangkan dengan jelas bahwa shalat di rumahnya (bagi wanita) lebih afdhal dari shalat di masjid, walaupun di masjid Makkah, Madinah atau Bait al-Maqdis"
Maka hendaklah berhati-hati bagi yang berakal dan bijaksana, bahwa apa yang telah mewabah pada sebagian negeri kaum muslimin dari kerusakan dan hilangnya rasa malu tidaklah terjadi dalam satu ledakan, tetapi ia berawal dari sesuatu yang teramat sederhana kemudian terjadilah apa yang telah terjadi.

Selanjutnya – wahai muslim- aplikasikanlah persaksianmu bahwa Muhammad adalah Rasul Allah dengan membenarkan apa yang ia kabarkan, mentaati apa yang ia perintahkan dan menjauhi apa yang Ia larang dan Ia bentak. Janganlah menyelisihi perintahnya karena memperturutkan hawa nafsu atau karena kepentingan seseorang ataupun karena sebab-sebab lain. Sesungguhnya Allah telah berfirman:
فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
(an-Nur : 63)

(Diterjemahkan dan diikhtisar dari sebuah tulisan di Qism 'Ilmi, Dar al-wathan Riyadh)




______________________________________________
[1] غير مصفح artinya menebas dengan mata pedang (membunuhnya) adapun memukul dengan punggung pedang artinya memberi pelajaran atau mendidik.[2] Dayayits bentuk jamak dari dayyuts, adalah orang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap mahramnya. Dalam hadits disebutkan "[3] Negeri yang dimaksud adalah Saudi Arabiah[4] Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan sebua hadits yang beliau hasankan :
صلاة إحداكن في مخدعها أفضل من صلاتها في حجرتها وصلاتها في حجرتها أفضل من صلاتها في دارها وصلاتها في دارها أفضل من صلاتها في مسجد قومها وصلاتها في مسجد قومها أفضل من صلاتها معي

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar